Pagi-pagi Sarapan Kebencian dan Upaya Menjadi Bayi kembali





Hari masih pagi, halaman Facebook saya sudah diserbu sejumlah netizen—beberapa di antaranya sudah seperti buzzer—, yang bangun pagi malah sudah saling adu postingan rasa penghinaan-fitnah -kebencian. Kalian tahu artinya apa? Baru saja matahari menyambangi kehidupanku, cuci muka plus kumur-kumur saja belum, saya sudah harus menyantap sejumlah cercaan yang saling bertubrukan, bertikai. Yah semacam umbar-umbar komentar emosional, atau saling sebar meme yang rada binal plus imbisil, yang bahkan tidak membuat peradaban manusia purba maju-maju karenanya.
 
Ini artinya juga, kita memulai pagi bukannya pergi menghirup udara segar, mendengarkan irama kicauan burung yang meneduhkan, atau lari pagi guna membakar lemak gegara senang ngetik hoax sambil ngemil, tapi malah sebar postingan-postingan yang (kadang)tak bermutu dengan tema yang itu-itu saja. Kalau bukan informasi abal-abal rasa Pilkada DKI, paling wacana intoleran yang diracik secara serampangan. Semuanya itu bahkan menyisakan perseteruan yang tak jelas juntrungannya.

Maksud saya, apakah sudah tidak ada kegiatan lain di pagi hari selain berkonflik ria di dunia maya? Iyalah Bro, ini masih pagi! Kalau memang harus mengawali hari di dunia maya, mengapa tidak memosting tautan yang lebih bermanfaat? Yaaaa... semacam artikel mengenai cara menghilangkan jerawat mungkin, atau kiat-kiat menjadi sufi, atau resep memasak nasi goreng, atau apa sajalah yang  bisa mencerahkan lahir dan batin. 

Gowenawan Mohammad (GM) saja bilang di Fanpage terbarunya, “Masih harus saling bertukar cercaankah para buzzer? Banyak yang sudah bosan, lho.” Asal tahu saja, saya salah satu orang yang sudah mulai jemu melihat masyarakat dunia maya saling tukar-tukaran hoax dan statement kebencian. Padahal dulu saya merasa perseteruan abadi para buzzer itu sebagai hiburan. Kadang bikin ngakak, kadang bikin geli. Sehingga di waktu-waktu tertentu saya justru merindukan netizen berseteru lagi.

Tapi bukankah saya harus menularkan kebosananku pada beberapa netizen? Soal itu, saya pernah mencobanya. Suatu ketika saya membagikan postingan GM itu kepada salah satu buzzer yang juga sebagai teman Facebook saya. Siapa tahu dia juga ketularan bosan. Tapi dia cuma bilang, “Ah, tidak sudi mau ikut GM.  Dia antek komunis dan liberal.” Akhirnya menjadi jelas. Di antara beberapa buzzer (netizen)  memang sudah menjadikan perseteruan di dunia maya sebagai jalan hidup, hingga tak ada niat untuk bertaubat. Lagi pula, ide mengenai komunis dan liberal bisa padu dalam satu ruang ideologi individu, dari mana muasalnya? Terkadang di satu sisi saya gagal paham terhadap jalan pikiran masyarakat dunia maya, yang sedikit banyak dididik oleh hoax dan dan portal abal-abal. 

Tapi  sebenarnya begini:  saya paham bahwa ini soal mempertahankan ideologi, atau upaya menyelamatkan negara,  atau gerakan membela agama—motif-motif semacam itulah.  Hingga setiap aspek mesti dimanfaatkan, termasuk media sosial,  untuk memuluskan segala hal yang bagi Anda anggap sebagai agenda perubahan. Maka tiap-tiap waktu mesti juga dimanfaatkan  untuk menebar hegemoni, agar sanggup mempengaruhi orang , juga agar dapat menjatuhkan Lawan, demi pencapaian tujuan-tujuan itu. Tapi, terlalu disayangkan jika pikiran kita hanya dimanfaatkan untuk merancang hoax dan tebar kebencian.

Mengkritik bagi saya tak harus melalui hoax, dan kritik tak pernah sama dengan membenci.  Itu sama halnya mengawetkan model-model kritik yang tidak konstruktif. Atau paling tidak, menjadi gambaran betapa tradisi literasi kita memang bermasalah. Toh ketika harus mengkritik suatu individu atau kelompok misalnya, cobalah dengan cara yang lebih informatif dan berwawasan, yang argumen-argumennya dirancang melalui studi yang komprehensif. 

Karena selama ini Sosmed menjadi ruang demokratis, di mana para netizen bebas untuk menyuarakan kritik. Tapi beberapa upaya kritik itu tak membuat banyak kalangan tersinggung. Itu karena isi yang ditawarkannya memang tak mengandung teks-teks pemantik emosi—meskipun beberapa di antaranya cenderung profokatif. Karena teks-teks yang ditawarkan adalah hasil dari produksi intelektual  yang santun dan bewawasan. 

Tapi situasi saat ini memang sangat berbeda. Sosmed malah didominasi oleh teks-teks yang memancing emosi— bahkan di antaranya yang masih simpangsiur, sepotong-sepotong,  dan tak jelas muasalnya. Pelan-pelan, Sosmed menjadi ruang pertikaian. Segala statement kebencian mewedar tak terkendali. Orang-orang akhirnya menilai kenyataan sesuai apa yang disampaikan informasi dominan. Karena di ruang Sosmed, kebenaran itu sejauh ia adalah yang paling viral dan up-to-date

Pada kondisi seperti inilah, bagi saya, menjadi momen yang baik untuk kita menjadi bayi kembali. Yah, kembali pada saat kita baru saja dilahirkan. Karena belakangan ini, pikiran kita sudah amat diracuni dengan lautan informasi yang abal-abal dan penuh kedengkian. Sehingga—nyaris sudah sangat mekanik—kita sangat mudah merespon kenyataan berdasarkan referensi-referensi hoax dan statement kebencian itu, yang seolah mengendalikan pikiran kita. Bukankah tak ada salahnya kembali menjadi persona yang tak tahu apa-apa?—kembali menjadi bayi. 

Dalam fenomenologi, “menjadi tak tahu apa-apa”  diandaikan sebagai upaya untuk menanggalkan secara sementara pemahaman-pemahaman awal kita atas suatu kenyataan. Atau dalam istilah Edmund Husserl, melakukan reduksi fenomenologis: memberi” tanda kurung” untuk segenap pemahaman kita, dengan maksud untuk menahannya sementara, dan tidak dipergunakan dulu sebagai referensi menilai kenyataan. Ini agar setiap orang dapat melihat realitas secara jernih dan apa adanya: seolah-olah kita baru pertama kali melihat dunia. Yah, kedengarannya memang sedikit utopis. Tapi paling tidak, cara seperti ini menjadi latihan agar pikiran kita lebih indepen—tak mudah untuk percaya, bahkan ketika informasi itu viral dan up-to-date

Lantas, apa rencana aktivitasmu besok pagi?


Komentar

Populer Sepekan