Menonton Tivi
Klik! Aku memencet tombol
nomor satu pada remote tiviku dan
muncullah channel yang menampilkan
pertunjukan dandut: semacam ajang pencarian bakat untuk muda-mudi yang pandai
dalam menyanyikan lagu dandut, dan berambisi jadi artis. Kau tahu, bukan konten ini yang hendak kusimak. Untuk
siaran ini aku sama sekali tidak tertarik, bahkan tidak suka. Sebab , disamping
aku jijik dengan musik dandut, ia juga semacam bualan menurutku. Bukankah
mempertaruhkan mimpi-mimpi di ajang
tersebut hanyalah omong kosong belaka? Toh, di kemudian hari, tidak semua dari
peserta akan sukses menjadi artis dangdut. Sebab Mereka harus bersaing lagi
dengan beberapa nama yang sejak awal sudah tenar. Kasihan sekali mereka. Berharap menjadi public figure yang suatu
saat tidak terwujud juga. Meskipun harus diakui, beberapa dari mereka memang
memiliki suara yang sangat Indah.
Seperti
penyanyi yang sedang unjuk kebolehan saat ini. Namanya Aisya, eh, Aisyanti
kayaknya. Entahlah. Mengetahuinya juga nggak penting-penting amat. Tapi suaranya
memang lumayan. Seksi dan Mendayu-dayu. Membikin kepalaku, tanganku, juga
kakiku sedaritadi mulai bergerak-gerak mengikuti irama musik dandut yang dinyanyikannya.
Sepertinya pinggulku juga tak mau ketinggalan. Joget enak juga yah.
Eh, maaf.
Sumpah, Aku benar-benar tidak suka dandut. Yang tadi itu hanya....... ah,
lupakan saja.
Klik, Klik, Klik! Sebenarnya
aku mencari sinetron baru yang berjudul Tukang
Copet Naik Haji. Hal itu dikabarkan temanku ke saya pada waktu kermarin.
Dia hanya bilang, malam ini tayangnya. Tapi dia tidak bilang di channel mana sinetron itu ditayangkan.
Sehingga saya harus menelusuri setiap channel
untuk mencari-carinya. Aku memang butuh tontonan baru, setelah episode dari Siksa
Ibu Tiri telah selesai.
Sangat disayangkan episodenya begitu dini
untuk tamat. Padahal ceritanya sangat menarik. Penuh drama penyiksaan yang meneteskan
air mata. Iya, aku selalu menangis saat menonton sinetron itu. Hanya
orang-orang yang buta hati ketika melihat seorang bocah kurus disiksa, lantas
tak bersedih. Tapi aku sangat bersyukur jika akhir episodenya adalah suatu cerita
malang sang ibu tiri yang kerap kuanggap sebagai perempuan tua psikopat. Ia meninggal
kesetrum listrik. Yang paling tragis, saat ibu tiri itu ingin dikuburkan. Kau
tahu? Tanah menolak tubuhnya. Setiap kali jenazahnya ingin dimasukkan ke liang
kubur, seketika itu pula jenazahnya terpental keluar. Ngeri kan?
Wah, aku
jadi penasaran dengan Tukang Copet Naik
Haji. Mungkin saja bercerita tentang pencopet yang mencuri uang untuk naik
haji, atau mungkin pencopet itu bertobat dan mendapat hidayah dan rezeki untuk
dia naik haji. Entahlah. Dan tak usah memikirkan sejak kapan saya menjadi pecinta
sinetron. Biar kuberi tahu saja. Itu di mulai sejak nenekku mengikuti alur
cerita dari sinetron yang berjudul Ganteng-ganteng
Macan Tutul setahun yang lalu, saat ia belum terkena stroke gara-gara tivi
tiba-tiba rusak saat ia lagi asyik nonton sinetron kesukaannya itu.
Suatu
ketika nenekku sedang menontonnya: Ganteng-ganteng
Macan Tutul itu. Sementara aku juga ingin nonton anime yang berjudul Naruto.
Kemalangan saya waktu itu adalah jam tayang
Naruto bertepatan dengan Ganteng-ganteng Macan Tutul. Entah
kenapa, channel yang menayangkan Naruto memindahkan jam tayang anime tersebut sehingga bersamaan dengan
jam tayang sinetron kesayangan nenekku. Sehingga aku harus membujuk nenekku
agar terbuka hatinya untuk bisa sesekali memindahkan channel di mana Naruto di
tayangkan.
“Nek,
Naruto dulu dong”
“Wah,
masyaallah... Rangga memang lebih ganteng kalau jadi macan tutul.”
“Nek,
Naruto sudah main. Gantian dong.”
“Cepat
Rangga, ayo capat! Kejar Cinta sebelum terlambat!”
“Nek...”
“Huh,
andaikan aku bisa membatu Rangga mengejar penculik kampret itu!”
“Nek!”
“Apa!”
“Nggak
ada apa-apa”
Nenekku
orang yang tak akan bisa diganggu jika sudah mulai berfantasi di depan layar tivi. Sehingga mau tak mau aku harus mengalah, dan
ikut menonton sinetron itu. Berharap, setelah sinetron itu usai, saya bisa
memindahkan channel-nya. Siapa tahu Naruto belum habis. Tapi, saat saya
turut menyimak sinetron tersebut, justru saya ikut tersihir. Aku tiba-tiba
menikmati alur ceritanya. Bahkan sampai memasuki alam imajinasiku: aku menghayalkan
diriku menjadi macan tutul. Hingga Detik demi detik, menit demi menit, aku gelisah.
Aku tiba-tiba merindukan sinetron tersebut, dan ingin segera menyimak
kelanjutannya. Nah, mulai dari sini aku mulai menyukai sinetron.
Tapi,
sudah berkali-kali aku memindahkan channel,
mengapa Tukang Copet Naik Haji belum juga
ketemu? Yang ada hanya tayangan berita melulu: tentang pemerkosaan dibawah umur, ada juga pencuri
ayam yang dikeroyok sampai mati, ada juga psikopat yang cengar-cengir setelah
ditangkap polisi, dan perihal absurd lainnya. Sebenarnya menonton berita itu
penting. Kita akhirnya selalu di ingatkan jika negara ini semakin miris, menyedihkan,
dan bikin geleng-geleng kepala. Tapi dari dulu memang aku tidak suka berita.
Kalau kau minta alasannya, tidak ada. Inilah satu perihal dalam hidupku, selain
kebiasaan ngupil, yang hadir tanpa alasan.
Selain
berita, ada yang lain sebenarnya: talkshow.
Tapi saya juga tidak suka, bahkan selalu mengkritik tayangan tivi yang bertemakan talkshow saat ini. Kontennya terlalu porno. Beberapa pembawa acara dalam tayangan talkshow selalu mengumbar berahi dengan
berpakaian ketat dan seksi. Pun, perkataannya cenderung mengarah pada hal-hal
yang berbau pornografi. Belum lagi artis yang dipanggil sebagai tamu yang
bahkan terkadang melampaui keseksian pembawa acaranya.
Nah, tuh
kan! Cara berpakaian pembawa acara salah satu tayangan talkshow yang kusimak saat ini benar-benar sudah keterlaluan. Belahan dadanya kelihatan.
Roknya terlalu pendek dan ketat sehingga cukup menampakkan lekuk pinggul dan
paha mulusnya. Nah, menurutku... aduh! Iya, menurutku.... ah, mengganggu
sekali! Tunggu dulu, anuku terlalu rapat dan menonjol. Kubetulkan posisinya
dulu. Oke, sampai mana tadi?
Iya,
menurutku tayangan seperti itu sangat
berbahaya bagi generasi masa depan. Bayangkan jika bocah yang masih bau kencur
yang menyimaknya. Bukan tak mungkin mereka terpengaruh. Sehingga belum juga
dewasa, mereka sudah mulai berpikiran cabul. Bukankah tayangan berita
akhir-akhir ini sudah banyak menayangkan kasus pencabulan yang dilakukan anak
yang di bawah umur? Bukankah itu tanda-tanda anak di bawah umur saat ini
semakin cabul?
kalau
begini, aku semakin malas nonton tivi. Tayangannya tidak ada yang menarik.
Sinetron yang kutunggu-tunggu juga tak kunjung ketemu. Ataukah memang tak ada?
Apakah temanku hanya membohongiku? Besok akan kusambangi dia.
Aku sudah
mengantuk. Tidur dulu ah. Klik!



Komentar
Posting Komentar