Eksotisme Minasatene dan Catatan Perjalanan yang Tidak Tuntas
Kawanan bocah secara serentak melompat
ke kolam itu, yang berisikan air jernih dari aliran bukit. Percikan air muncul
seperti mengepung udara, dan kembali jatuh, hingga gemerciknya menambah riuh
rendah suara bocah yang sedang bahagia. Bersamaan dengan gaduhnya kawanan bocah
itu, beberapa orang pemuda sedang asik mencuci motornya, melapnya dengan penuh
sabar, dengan menggunakan air dari kolam. Seperti motor mereka dibeli dari
hasil keringatnya sendiri, mungkin dari hasil panen padi, atau hasil penjualan
sapi, sehingga mereka merawat kendaraannya dengan sungguh-sungguh. Masyarakat
Pangkep menamakan tempat itu, Leang Kassi.
Leang Kassi, yang letaknya berada di desa
Belae, kec. Minasatene, dikenal oleh banyak orang sebagai objek wisata berupa permandian umum,
pemandangan jejeran karts yang indah menyejukkan, dan tidak jauh dari lokasi
permandian, terdapat bisnis terapi ikan yang dikelolah oleh masyarakat setempat.
Di sana, terdapat juga beberapa gua prasejarah yang pernah menjadi pemukiman
manusia purba. Hal itu ditandai dengan ditemukannya sampah dapur berupa sisa makanan dan tulang, fosil moluska
berupa cangkang siput dan kerang, dan pada langit-langit gua terdapat gambar dinding
hasil karya imajinasi manusia purba.
Aku, bersama dua orang sahabat,
mengunjungi tempat itu sekadar menikmati sore sembari bercengkrama banyak hal, berupa
perihal yang sebenarnya remeh-temeh. Yah, begitulah kami jika sedang berkumpul.
Nyaris tidak ada pembahasan tentang carut-marut negara, atau gagasan-gagasan
revolusioner, meskipun kami pernah
dibesarkan di lingkungan aktivisme. Kalau pun ada, pada akhirnya hanya
berakhir menjadi letupan tawa. Sebab,
saat ngumpul bareng, saat itu pula
kami hanya sekadar sahabat yang senang membicarakan hal-hal yang tidak
penting-penting amat sebenarnya. Sehingga saat momen seperti itu, untuk tidak bermaksud
mengatakan bahwa kami aktivis tulen, tidak ada si Ical yang ketua pusat IPPM
Pangkep, tak ada si Adi yang mantan pengurus maperwa UNM, dan tidak ada
Muhajir “Si Lelaki Panggilan” (begitulah
saya sering dipanggil oleh beberapa kawan, saking sudah seringnya dipanggil
sebagai pembicara di forum-forum mahasiswa). Yang ada hanyalah seorang pemuda
yang sudah saling bersahabat sejak masih puber, yang selalu gagal memasuki
ruang perbincangan yang filosofis dan progresif, saking identiknya kami dengan
kekonyolan dan permainan .
Sebenarnya agenda wisata ini tidak pernah
direncanakan sebelumnya. Tiba-tiba saja Ical menelepon saya dan mengajak ke
Leang Kassi untuk bersantai ria. Awalnya saya berpikir untuk tidak ikut. Tapi,
karena saya sudah lama tidak kesana, akhirnya saya menyetujui ajakannya.
Panggilan jappa-jappa itu juga saya
respon, untuk sekadar bernostalgia mengenai masa kanak-kanak ku. Masih hangat
di ingatan, waktu masih duduk di bangku sekolah dasar, saya dan teman-teman
sekolahku sering ke Leang Kassi, untuk menikmati segarnya air kolam. Maka saat
melihat kawanan bocah yang lagi asik berenang, saya langsung teringat bahwa
saya pernah menikmati masa kecil seperti itu. Cuma perbedaannya, mereka adalah
bocah asli desa Belae, dan kami adalah anak yang besar di gemerlap kota
Pangkajene, yang masih memiliki semangat berpetualang yang tinggi. Berbeda
dengan bocah perkotaan hari ini yang lahir dari rahim gadget dan mainan berteknologi mutakhir. Sehingga sudah jarang
bocah yang hidup di Kota ingin menguji ketangkasannya dengan naik sepeda menuju
Leang Kassi, dan berbaur dengan alam Belae.
Tapi, terlepas dari itu semua, Ada hal
yang memilukan sebenarnya pada objek wisata Leang Kassi. Saat berkunjung ke sana,
pemandangan Leang Kassi jauh dari kata bersih. Puntung rokok dan sampah plastik
bertebaran di mana-mana. Hal ini menandakan bahwa para pengunjung belum
memiliki kesadaran ekologis yang tinggi. Sehingga para pengunjung justru
menjadi “bom waktu” yang secara perlahan merusak tatanan alam Leang Kassi. Padahal, sebagai objek wisata alam, Leang
Kassi seharusnya harus dirawat dengan baik, sehingga sisi naturalnya tetap
terjaga. Di samping itu, Leang Kassi
juga memiliki nilai sejarah yang tinggi. Ruang yang suatu masa pernah dihuni
oleh nenek moyang para umat manusia. Sehingga sangat penting untuk menjaga
Leang Kassi dari kerusakan, sebagai bentuk rasa hormat kita pada objek wisata
gratis ini. Oleh karena Leang Kassi sebagai salah satu objek wisata prasejarah,
yang berhasil mengundang para arkeolog untuk datang meneliti artefak-artefak
prasejarah Leang Kassi. Sehingga dengan ini, Panorama Pangkep lebih dikenal
banyak orang.
Tapi, memang tak bisa kita sangsi, di
Indonesia, objek wisata alam memang selalu menjadi korban dari para
pengunjungnya sendiri. Mereka datang, menikmati panoramanya, tapi di sela-sela
itu, sampah plastik dibuang di sembarang tempat, dan kertas-kertas dengan
berbagai pesan tertulis di dalamnya dihempaskan begitu saja saat setelah
dipergunakan untuk berfoto ria. Bahkan tak jarang sikap vandalisme kerap
dilakukan para wisatawan, sehingga banyak menyisakan kerusakan objek wisata
alam. Sikap vandalisme bisa bermacam-macam, seperti pengrusakan taman bunga,
mencoret-coret bahkan menghancurkan situs-titus sejarah, dsb.
Entah Ical dan Adi berpikir seperti ini
atau tidak, tapi saya mengenal dua pemuda itu, dan kerap resah kepada para
wisatawan saat kami mengunjungi puncak gunung dan melihat sampah-sampah
berserakan disekitar gunung. Tapi untuk saat ini mungkin tidak, sebab mereka
sedang asik berfoto. Yah, sebagaimana orang kebanyakan, saat lagi bersama
kamera, jiwa narsis kami juga tetiba hidup kembali.
Tapi langit sudah hampir menampakkan warnah senja, pertanda
sedikit lagi berubah menjadi gelap. Kami akhirnya bergegas pindah ke tempat
wisata lain yang masih di sekitaran Minasatene. Harus diakui, bahwa Minasatene
memang memiliki banyak objek wisata yang bahkan sudah terkenal di dunia
Internasional. Di samping Leang Kassi, ada juga objek wisata gua yang masih di
sekitaran desa Belae, dan di desa
Panaikang, ada objek wisata yang juga cukup terkenal: Leang Lonrong. Bahkan di
desa Belae, gua-gua bisa dengan mudah kita temukan di pinggir jalan raya,
meskipun ada juga gua di tengah tebing bukit karts, yang untuk mencapainya
harus menggunakan peralatan khusus. Sedangkan Leang Lonrong terkenal dengan
keindahan stalagmitnya (susunan batu kapur berbentuk kerucut berdiri tegak di
lantai gua) dan sumber air
yang menggenang dengan jernih dan di kaki bukit. Saking segarnya, Leang Lonrong
menjadi salah satu sumber air andalan masyarakat setempat.
Tapi sayang, hujan menghentikan langkah kami untuk
mengunjungi objek wisata selanjutnya. Kami harus singgah berteduh, sembari
melihat aktivitas warga yang sedang bertani dan mengembalai sapinya. Suatu
tontonan yang menampilkan sisi harmoni desa Belae. Sampai akhirnya langit sudah
menampakkan gelapnya, pulang akhirnya menjadi tujuan akhir sekaligus menjadi
pilihan yang mengecewakan. Tapi, meskipun belum sempat mampir di objek wisata
yang lainnya, setidaknya persinggahan itu sudah sedikit memanjakan mata. Sawah
yang terhampar luas, dengan tanaman padi yang hijau-kekuning-kuningan,
menampilkan sisi eksotisme khas pedesaan. Ditambah lagi jejeran pegunungan
karts yang memanjang, suatu pemandangan yang sayang jika dilewatkan.



Komentar
Posting Komentar